<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2296414447400032314</id><updated>2012-02-02T13:04:32.753+08:00</updated><category term='Sejarah Buton'/><category term='Sejarah Islam'/><title type='text'>Buton Pages</title><subtitle type='html'>Merekam Jejak Kebudayaan Wolio Buton Indonesia.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://butonpages.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2296414447400032314/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://butonpages.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Sayf al Bathin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04396142878818637632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TUVzPqIRQHI/AAAAAAAAAFM/dBmsw2Kl7js/s220/Dragon-5.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2296414447400032314.post-4407367709868461072</id><published>2011-01-19T15:03:00.005+08:00</published><updated>2011-01-19T15:15:45.165+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah Islam'/><title type='text'>Islam Masuk di Nusantara Semasa Rasullullah SAW Masih Hidup</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Islam masuk ke Nusantara dibawa para pedagang dari Gujarat, India, di abad ke 14 Masehi. Teori masuknya Islam ke Nusantara dari Gujarat ini disebut juga sebagai Teori Gujarat. Jalur masuknya Islam menurut teori ini adalah Arab-India-Persia, dikenal sebagai Jalur Emas. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Demikian menurut buku-buku sejarah yang sampai sekarang masih menjadi buku pegangan bagi para pelajar kita, dari tingkat sekolah dasar hingga lanjutan atas, bahkan di beberapa perguruan tinggi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;Namun, tahukah Anda bahwa Teori Gujarat ini berasal dari seorang orientalis asal Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk menghancurkan Islam, khususnya Islam di nusantara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orientalis itu bernama Snouck Hurgronje, yang demi menghalalkan misi dan mencapai tujuannya, ia mempelajari bahasa Arab dengan sangat giat. Mengaku sebagai seorang Muslim. Mengganti namanya menjadi Abdul Gaffar. Naik haji pula. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dan bahkan mengawini seorang muslimah, anak seorang tokoh di zamannya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p face="arial" class="MsoNormal"&gt;Menurut sejumlah pakar sejarah dan juga arkeolog, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, telah terjadi kontak dagang antara para pedagang Cina, nusantara, dan Arab. Jalur perdagangan selatan ini sudah ramai saat itu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p face="arial" class="MsoNormal"&gt;Kapan persisnya Islam masuk ke Indonesia? Sebagian besar orientalis berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia dalam dua gelombang. Gelombang pertama pada abad ke-7 H dan gelombang kedua pada abad ke-13 H (setelah Nabi Muhammad SAW wafat).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p face="arial" class="MsoNormal"&gt;Pendapat para orientalis tersebut didasarkan pada dua asumsi: Pertama, bersamaan dengan jatuhnya Baghdad pada 656 H di tangan penguasa Mongol sehingga sebagian besar ulamanya melarikan diri hingga ke kepulauan Nusantara. Kedua, ditemukannya beberapa karya sufi pada abad ke-7 H. &lt;/p&gt;&lt;p face="arial" class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TTaN1qtuWiI/AAAAAAAAAE8/1fVs0S2A5tw/s1600/Jalur%2BMakkah.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 172px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TTaN1qtuWiI/AAAAAAAAAE8/1fVs0S2A5tw/s320/Jalur%2BMakkah.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5563790342801480226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="text-align: center;font-family:arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Garis Biru syiar Islam lewat jalur laut. Garis Hijau syiar Islam lewat jalur darat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Alwi Shihab &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dalam bukunya berjudul &lt;i style=""&gt;Islam Sufistik: “&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;Islam Pertama” dan Pengaruhnya hingga Kini di Indonesia &lt;/i&gt;dengan tegas menolak asumsi itu. Bagi dia justru Islam masuk ke nusantara pada awal abad pertama Hijriah. Yakni, pada masa pedagang-pedagang sufi Muslim Arab memasuki Cina lewat jalur bagian barat nusantara. (lihat peta syiar Islam di atas).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Kesimpulan itu didasarkan pada manuskrip Cina pada periode Dinasti Tang. Manuskrip cina itu menjelaskan adanya permukiman sufi-Arab di Cina, yang penduduknya diizinkan oleh kaisar untuk sepenuhnya menikmati kebebasan beragama.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Cina yang dimaskud dalam manuskrip pada abad pertama Hijriah itu tiada lain adalah gugusan pulau-pulau di Timur Jauh, termasuk kepulauan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Dari laporan jurnalistik Cina itu pula kita mendapat informasi baru bahwa ternyata penyebaran Islam di Indonesia bukanlah dari tiga jalur emas (Arab-India dan Persia) sebagaimana tertulis dalam buku-buku sejarah selama ini, melainkan dari Arab langsung.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Dalam buku &lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Gerilya Salib di Serambi Makkah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar) yang banyak memaparkan bukti-bukti sejarah soal masuknya Islam di Nusantara, Peter Bellwood, Reader in Archaeology di Australia National University, telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi (Nabi Muhammad SAW belum lahir) beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam catatan kakinya Bellwood menulis, “Museum Nasional di Jakarta memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu, banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir masa Dinasti Zhou (sekitar tahun 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London. Benda-benda ini dilaporkan berasal dari kuburan di Lumajang, Jawa Timur, yang sudah sering dijarah…” Bellwood dengan ini hendak menyatakan bahwa sebelum tahun 221 SM, para pedagang pribumi diketahui telah melakukan hubungan dagang dengan para pedagang dari Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menurutnya, perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi (Wolters 1967; Hall 1967, 1985). Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai catatannya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Di Jawa, masa sebelum masehi juga tidak ada catatan tertulisnya. Pangeran Aji Saka sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi. Dalam periode ini di Kalimantan telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai dan Kerajaan Langasuka di Kedah, Malaya. Tarumanegara di Jawa Barat baru berdiri tahun 400-an Masehi. Di Sumatera, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Temuan G.R Tibbets&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan Jawa—dengan Cina juga diakui oleh sejarahwan G. R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi, ” tulis Tibbets. Jadi peta perdagangan saat itu terutama di selatan adalah &lt;b style=""&gt;Arab-Nusantara-China.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim. Ketika itu pesisir pantai Sumatera masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perkampungan-perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan lokal secara damai. Mereka sudah beranak–pinak di sana. Dari perkampungan-perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat pengajian al-Qur’an dan pengajaran tentang Islam sebagai cikal bakal madrasah dan pesantren, umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Pembalseman Firaun Ramses II Pakai Kapur Barus Dari Nusantara&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Kapankah persisnya kontak, komunikasi dengan dunia luar telah dijalin oleh negeri-negeri di nusantara? Temuan berikut semakin menegasikan teori para orientalis diatas.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Dari berbagai literatur, diyakini bahwa kampung Islam di daerah pesisir Barat Pulau Sumatera itu bernama Barus atau yang juga disebut Fansur. Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Di zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun ketika Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Aceh. Salah satu ulama yang terkenal yang hidup pada abad ke-16 berasal dari sini adalah Hamzah Fansuri (Fansur/Barus adalah daerah asalnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tesis mengemukakan bahwa Barus merupakan kota tertua di Indonesia mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal Masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5.000 tahun sebelum Masehi!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Perancis yang bekerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad 9-12 Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah ratusan tahun dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Barus itu sangatlah makmur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Barus dan sekitarnya, banyak pedagang Islam yang terdiri dari orang Arab, Aceh, dan sebagainya hidup dengan berkecukupan. Mereka memiliki kedudukan baik dan pengaruh cukup besar di dalam masyarakat maupun pemerintah (Kerajaan Budha Sriwijaya). Bahkan kemudian ada juga yang ikut berkuasa di sejumlah bandar. Mereka banyak yang bersahabat, juga berkeluarga dengan raja, adipati, atau pembesar-pembesar Sriwijaya lainnya. Mereka sering pula menjadi penasehat raja, adipati, atau penguasa setempat. Makin lama makin banyak pula penduduk setempat yang memeluk Islam. Bahkan ada pula raja, adipati, atau penguasa setempat yang akhirnya masuk Islam. Tentunya dengan jalan damai.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Sumber : Sabili&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2296414447400032314-4407367709868461072?l=butonpages.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://butonpages.blogspot.com/feeds/4407367709868461072/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://butonpages.blogspot.com/2011/01/islam-masuk-di-nusantara-semasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2296414447400032314/posts/default/4407367709868461072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2296414447400032314/posts/default/4407367709868461072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://butonpages.blogspot.com/2011/01/islam-masuk-di-nusantara-semasa.html' title='Islam Masuk di Nusantara Semasa Rasullullah SAW Masih Hidup'/><author><name>Sayf al Bathin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04396142878818637632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TUVzPqIRQHI/AAAAAAAAAFM/dBmsw2Kl7js/s220/Dragon-5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TTaN1qtuWiI/AAAAAAAAAE8/1fVs0S2A5tw/s72-c/Jalur%2BMakkah.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2296414447400032314.post-1630953018099822301</id><published>2011-01-18T22:21:00.005+08:00</published><updated>2011-01-19T15:02:58.386+08:00</updated><title type='text'>Wong Fei Hung Ternyata Ulama dan Pendekar Sekaligus Tabib</title><content type='html'>Ketika masih remaja dulu, bahkan sampai sekarang, saya sangat menggemari film-film silat China. Mulai dari yang berpuluh-puluh seri seperti Pendekar Rajawali, Pedang Pembunuh Naga, Pendekar Awan dan Angin, sampai yang versi layar lebar seperti A Man Called Hero, Kungfu Hustle, Crouching Tiger Hidden Dragon, Once Upon a Time in China sampai serial Avatar.&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt;"&gt;Dalam film-film tersebut selain dikemas sebagai cerita silat kungfu yang menghibur, di dalamnya juga terdapat tentang filsafat, nilai-nilai moral, budaya dan sejarah perjuangan, kisah heroik patriotisme. Seperti dalam film Once Upon a Time in China yang menceritakan seorang pendekar kungfu yang bernama Wong Fei Hung, Master Wong (diperankan aktor laga Jet Lee) merupakan cerita silat kungfu yang berlatar belakang sejarah perlawanan rakyat China melawan ekspansi kekuasan dan penjajahan Jepang, Inggris dan Rusia. Siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt;"&gt;Ketika sedang surfing di salah satu situs jejaring Islam, tanpa sengaja saya menemukan artikel tentang Wong Fei Hung. Ternyata Wong Fei Hung selain pendekar kungfu, dia juga adalah seorang muslim, bahkan beliau adalah ulama, selain ahli pengobatan. Nama Islamnya adalah Faisal Hussein Wong. Sedemikian hormatnya rakyat dan pemerintah China sehingga Wong Fei Hung ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China. Namun dalam penulisan sejarah bahkan film-film silat yang mengisahkan Wong Fei Hung sama sekali tidak pernah disinggung bahwa Ustadz Wong adalah seorang muslim. Pemerintah China sengaja mengaburkannya karena pada saat itu mereka sedang menegakkan supremasi kekuasaan pemerintahan yang didominasi komunis. Mirip dengan keadaan di Indonesia ketika supremasi kekuasaan didominasi oleh Orde Baru maka sejarah yang ditulis pada saat itulah yang dianggap kebenaran tunggal. Di luar itu, semua adalah salah dan dianggap mengancam stabilitas. Saya masih ingat ketika masih bersekolah berseragam putih biru/abu-abu jika kita memiliki buku sejarah yang berbeda dengan mainstream yang ada kita diperintahkan untuk membuang, memusnahkannya atau membakarnya. Kita tidak diajari menganalisa, menelaah, memilah kebenaran atau ketidakbenarannya. Berikut ini saya tuliskan saja sepenggal sejarah yang lain tentang Uztad Master Wong.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt;"&gt;Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-Arab-kan, namanya ialah &lt;b style=""&gt;Faisal Hussein Wong.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TTWlY20AXbI/AAAAAAAAAE0/yQTkT8taVkw/s1600/Wong-Fei-Hung.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 179px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TTWlY20AXbI/AAAAAAAAAE0/yQTkT8taVkw/s320/Wong-Fei-Hung.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5563534761135201714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt;"&gt;Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan keluarga Wong.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar China yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses menciptakan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus&lt;b style=""&gt;.&lt;/b&gt; Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Bahkan ditangan Wong Fei-Hung perkakas rumah tangga bisa menjadi senjata efektif, efisien dan mematikan. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang preman pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2296414447400032314-1630953018099822301?l=butonpages.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://butonpages.blogspot.com/feeds/1630953018099822301/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://butonpages.blogspot.com/2011/01/wong-fei-hung-ternyata-ulama-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2296414447400032314/posts/default/1630953018099822301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2296414447400032314/posts/default/1630953018099822301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://butonpages.blogspot.com/2011/01/wong-fei-hung-ternyata-ulama-dan.html' title='Wong Fei Hung Ternyata Ulama dan Pendekar Sekaligus Tabib'/><author><name>Sayf al Bathin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04396142878818637632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TUVzPqIRQHI/AAAAAAAAAFM/dBmsw2Kl7js/s220/Dragon-5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TTWlY20AXbI/AAAAAAAAAE0/yQTkT8taVkw/s72-c/Wong-Fei-Hung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2296414447400032314.post-8508709749337620223</id><published>2011-01-18T21:52:00.007+08:00</published><updated>2011-01-19T15:01:27.795+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah Buton'/><title type='text'>Sejarah yang bagai air terus mengalir</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    Saat &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kali pertama menulis di blog ini dengan judul postingan “&lt;i style=""&gt;Asal Mula Negeri yang Bernama Wolio-Buton&lt;/i&gt;” pada bagian akhir postingan saya menuliskan adanya pertanyaan: siapakah kali pertama yang memberikan nama &lt;i style=""&gt;buton, butuni&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;bathin&lt;/i&gt;, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pada gugusan pulau di tenggara jasirah sulawesi itu?”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: justify;"&gt;Namun karena kesibukan saya dan “minimnya” literatur, ditambah tidak &lt;i style=""&gt;self confidence&lt;/i&gt;-nya saya menggali sesuatu yang bukan bidang saya, akhirnya janji untuk melanjutkan postingan tersebut belum sempat terselesaikan. Pun walaupun sejak kecil saya sudah akrab dengan sejumlah manuskrip kesultanan Buton, saya masih belum punya keberanian menulis sejumlah hal tentang negeri Buton. Saya justru lebih sering menulis dan posting di blog saya yang lain yang berisi review produk software, utility, tips &amp;amp; triks, dll, serta sejumlah aktivitas blogging lainnya. Saya lebih memilih posting di blog masa kini saya (&lt;i style=""&gt;present &amp;amp; future&lt;/i&gt;) sehingga blog masa lampau (&lt;i style=""&gt;past&lt;/i&gt;) tertinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: justify;"&gt;Pada waktu lebaran Idul Fitri dan Idul Adha “kemaren”, setelah lebih dari 12&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tahun (dua belas tahun) terakhir kali kunjungan saya, akhirnya saya pulang kampung lagi ke &lt;i style=""&gt;Buton, Butuni, Bathin&lt;/i&gt;, tepatnya di kampung halaman, di Wajo. Istilah kampung halaman saya sebenarnya kurang tepat. Lebih tepatnya kampung halaman orang tua saya. Karena saya lahir dan dibesarkan nun jauh dari pulau &lt;i style=""&gt;Bathin&lt;/i&gt;. Frekuensi pulang kampung ke Buton bisa dihitung jari. Namun bagi saya, &lt;i style=""&gt;Buton, Butuni, Bathin&lt;/i&gt;, adalah negeri yang jauh di mata namun dekat di hati. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: justify;"&gt; Banyak perubahan yang terjadi. Mulai saat tiba di pelabuhan Sultan Murhum yang ramai namun airnya sudah mulai keruh tidak seperti dulu lagi. Contohnya di lokasi wisata air terjun (masyarakat setempat menyebutnya: Air Jatuh), airnya juga keruh-kotor apalagi saat musim penghujan. Ahh..pastilah di bagian hulu sana banyak terjadi penebangan hutan. Salah satu indikator tampak jelas dari kotornya air sungai dengan setumpuk sampah ranting kayu bahkan ada kayu bulat (gelondongan) yang menghambat laju air sungai di tempat wisata itu. Saya tidak menyempatkan diri untuk menengok bagaimana kondisi hutan di hulu sana sehingga air sungai jadi keruh kotor seperti itu. Namun satu hal yang pasti bahwa jika air sungai telah kotor pertanda di bagian hulu kondisi hutan sudah tidak bagus lagi. Padahal hutan adalah penyedia oksigen dan penyimpan air bagi kehidupan makhluk sekitarnya. Apakah gerangan yang terjadi dengan hutan di pulau Buton? Saya jadi paham mengapa perusahaan yang mendistribusikan air di Buton salah satu kendalanya adalah minimnya jumlah debit air-- selain masalah perpipaan dan masalah manajemen air antara pihak kabupaten dan kota. Saya juga jadi paham mengapa di kampung saya di Wajo—dan kampung lainnya-- masyarakatnya memperoleh air dari perusahaan distributor air tersebut masih “senin kamis”. Terkadang, saat di Wajo, saya biasa bercanda: “&lt;i style=""&gt;wah kita harus hemat air, jangan sampai ntuk wudhu pun berganti jadi tayammum saja&lt;/i&gt;…”. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: justify;"&gt; Saya juga sempat singgah di pantai Kamali yang dulu belum ada—begitu ramai dipenuhi pedagang berbaris&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mirip pantai Losari di Makassar. Tampaknya aktivitas geliat ekonomi sedang tumbuh di Baubau sebagai ibukota Buton.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: justify;"&gt;Saat tiba di kampung, bangunan yang kali pertama saya jumpai adalah masjid (Masjid Al Muttaqin) yang terletak masih termasuk area pekarangan depan rumah orang tua saya. Kata bapak,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada awalnya masjid tersebut hanya sebuah langgar, surau biasa tempat beribadah kakek kami sekeluarga. Seiring berjalannya waktu, bapak bersama keluarga melihat belum ada masjid di kampung kami. Maka bapak berinisiatif menghibahkan tanahnya untuk membangun masjid bersama warga. Surau kecil itupun mulai dibangun menjadi sebuah masjid. Saya masih ingat ketika masih kanak-kanak saat di Makassar, bapak sering menyisihkan uangnya –walau tidak banyak-- untuk dikirim ke panitia pengurus masjid guna pembangunan masjid yang sedang dirintis. Sekarang masjid sederhana itu tampak sudah cukup megah seiring semakin banyaknya bantuan sumbangan dari berbagai pihak, termasuk dari pemerintah kotamadya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: justify;"&gt; Telah beberapa kali saya shalat Jumat dimasjid ini. Ada hal unik yang saya amati dalam ritual prosesi sebelum shalat di masjid ini, dan sejumlah masjid di Buton, seperti Masjid Agung yang terletak di lingkungan situs benteng Keraton Buton. Mulai dari kostum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;aparat masjid sampai ritual prosesi sebelum dimulainya ibadah shalat Jumat. Yang jelas, sangat berbeda dari masjid lain di tanah air yang pernah saya singgahi. Saya pernah menanyakan pada para orang tua di Buton dan ternyata penjelasannya amat sangat panjang. Membuat saya tercengang. Mulai kostum aparat, prosesi shalat, struktur masjid Agung Kraton Kesultanan, struktur benteng kraton kesultanan, dan lain-lainnya, semuanya ada filosofinya. Semuanya direlevansikan dengan agama Islam. Begitu merasuknya ke semua dimensi kehidupan orang Butan ajaran Islam ini. Dari sini pahamlah saya bahwa Islam di Buton adalah Islam yang cenderung pada sufistik, Islam filsafat. Salah satu bukti Islam sufistik, Islam filsafat di Buton adalah adanya karya monumental UUD Kesultanan Buton yang dikenal sebagai &lt;i style=""&gt;Murtabat Tujuh&lt;/i&gt; dan UU &lt;i style=""&gt;Istiadatul Azali.&lt;/i&gt; Dua karya ini sarat dengan filosofi nilai-nilai keIslaman yang diimplementasikan dan dibumikan gagasannya menjadi pranata ketatanegaraan Kesultanan Buton pada masanya. Bagi saya dua filsafat tersebut adalah karya &lt;i style=""&gt;master piece&lt;/i&gt; dari para ulama kesultanan Butuni zaman &lt;i style=""&gt;doeloe &lt;/i&gt;bahkan sampai sekarang ini. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TTWdR_QSLsI/AAAAAAAAAEs/LkQhALigsPY/s1600/Bab%2BIX.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TTWdR_QSLsI/AAAAAAAAAEs/LkQhALigsPY/s200/Bab%2BIX.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5563525847049187010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Masjid Agung Kesultanan Buton&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;yang terletak di situs benteng kraton Kesultanan Buton&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: justify;"&gt;Saya membayangkan betapa mendalam dan dahsyatnya pemahaman keislaman umara dan ulama jaman dulu di Buton sehingga ajaran &lt;i style=""&gt;Wahdatul Wujud-Martabat Tujuh&lt;/i&gt; Ibnu Arabi tidak sekadar dipahami sebagai ajaran sufistik-filsafat belaka. Saya juga yakin bahwa Ibnu Arabi sendiri tidak sampai pada martabat kontemplasi bahwa filsafat &lt;i style=""&gt;Martabat Tujuh&lt;/i&gt;-nya kelak dibumikan gagasannya oleh orang Buton. La Elangi (Sultan Buton ke-4) dan Syarif Muhammad mengelaborasinya dan mengimplementasikannya menjadi UUD Kesultanan Buton. Hal yang menarik bahwa &lt;i style=""&gt;Martabat Tujuh &lt;/i&gt;dikembangkan dalam kurun waktu yang hamir bersamaan di kesultanan nusantara. Di kesultanan Aceh Darussalam &lt;i style=""&gt;Martabat Tujuh&lt;/i&gt; dikembangkan oleh Hamzah Fansuri, di Kesultanan Pasai oleh Syekh Syamsuddin dan di Jawa oleh Amongraga. Ketiga ulama tersebut mendalami filsafat tersebut sebatas filsafat sufistik untuk mengenal Al-Khalik Allah Rabbul Alamin, proses kejadian alam semesta dan proses kejadian mahkluk. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: justify;"&gt; Saya pernah membaca langsung kitab &lt;i style=""&gt;Murtabat Tujuh&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;Istiadatul Azali&lt;/i&gt; dari tulisan aksara aslinya, &lt;i style=""&gt;buri&lt;/i&gt; Arab-Wolio dan terjemahannya. Setelah membacanya pahamlah saya bahwa jika kitab ini dibaca oleh orang di luar Buton yang tidak memahami makna sebenarnya maka ulama jaman dulu di Buton bisa-bisa dituduh kafir, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;teologinya penuh dengan bid’ah. Padahal di Buton sendiri seperti juga kesultanan lain berlaku falsafah “&lt;i style=""&gt;adat bersendikan syara dan syara bersendikan kitabullah (Al Quran dan hadist)&lt;/i&gt;”. Bagi saya dan juga orang-orang tua di Buton seberapapun memukaunya buah karya kontemplasi dari ulama tabi’in wa tabain (ulama-ulama belakangan, sesudah nabi dan para sahabat) sampai kapanpun tidak akan pernah bisa melampaui ajaran Tauhid yang telah ditanamkan oleh Rasulullah Muhammad Saw. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: justify;"&gt;Bid’ah adalah mengada-adakan sesuatu yang tidak ada pedomannya di dalam Al Quran maupun hadist. Mengenai &lt;i style=""&gt;Murtabati Tujuh&lt;/i&gt;-nya orang Buton saya biasanya menjelaskannya dengan analogi seperti ini: di zaman nabi jika sholat menggunakan penutup kepala memakai sorban dan aurat bawah memakai sarung . Tetapi bukan berarti jika kita memakai kopiah hitam dan bercelana panjang jeans itu adalah bid’ah. Menyuap makanan disunnahkan menggunakan tiga jari tangan tetapi betapa gazalnya jika makan coto menyuapnya menggunakan tiga jari tangan dan tentu bukan bid’ah kalau dibantu memakai sendok dari logam. Kendaraan yang digunakan di zaman dulu adalah onta dan kuda tetapi bukan berarti berkendaraan sepeda motor, mobil, pesawat, super jet adalah bid’ah. &lt;i style=""&gt;Murtabati Tujuh&lt;/i&gt; adalah UUD Kesultanan Buton. Ulama dan umara zaman dulu di Buton menyusunnya karena berusaha memikat ummatnya, masyarakatnya, dengan mengakulturasi budaya yang sudah ada dengan nilai-nilai ajaran Islam yang luhur. M&lt;i style=""&gt;urtabati Tujuh&lt;/i&gt; sama sekali bukanlah sebuah “agama baru” untuk orang Buton tetapi “hanyalah” sebuah sistem yang disusun oleh ulama dan umara Buton untuk mendekatkan ummat dan masyarakatnya pada ajaran Islam dan mengatur sistem ketatanegaraan/kesultanan pada masa itu. Terbukti bahwa pada zamannya La Elangi mampu mereformasi dan membawa ummat, masyarakatnya dan kesultanan Buton pada masa itu keluar dari sejumlah krisis yang menimpa negerinya. La Elangi bisa dikatakan sebagai peletak dasar &lt;i style=""&gt;girrah&lt;/i&gt; (spirit baru) orang Buton untuk lebih dalam mempelajari ajaran Islam.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: justify;"&gt; Jika kita menelusuri dan mendalami riwayat Islam di Buton menurut saya niscaya inilah sebagian bukti bahwa proses masuknya Islam di Buton –seperti juga masuknya Islam di nusantara--adalah melalui akulturasi dengan budaya masyarakat setempat. Secara umum demikianlah proses Islam masuk di nusantara. Dalam catatan sejarah masyarakat setempat, Islam masuk di Buton dengan jalan damai. Dibawa oleh para ulama sufi. Para ulama ini selain pengemban syiar Islam, mereka juga melakukan aktivitas perdagangan dalam kehidupannya sehari-hari. Seperti dituliskan oleh Prof Dr Alwi Shihab dalam buku &lt;i style=""&gt;Islam Sufistik: “Islam Pertama” dan Pengaruhnya hingga Kini di Indonesia.&lt;/i&gt; Menurut Alwi Shihab, Islam yang masuk ke Indonesia bukanlah Islam yang berwajah sangar tetapi Islam sufistik, Islam berwajah teduh, dibawa oleh para pedagang yang juga adalah sufi dari tanah Arab. Mengenai proses masuknya Islam menurut Alwi Shihab mengutip manuskrip Cina yang bertarikh zaman dinasti Tang (618-907 M) bahwa Islam masuk ke nusantara pada awal abad pertama Hijriah. Yakni, pada masa pedagang-pedagang sufi Muslim Arab memasuki Cina lewat jalur bagian barat nusantara. Cina yang dimaksud dalam manuskrip tersebut adalah gugusan pulau-pulau di nusantara.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Butuuni, Bathin, Bathniy, Butun, Butung, Boeton, Buton&lt;/span&gt;.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: justify;"&gt;Kembali ke pertanyaan awal tulisan ini: siapakah yang kali pertama memberi nama gugusan pulau di jazirah tenggara sulawesi itu? Ada beragam –setidaknya tujuh--dialek, cara pelafalan, dan penulisan nama pulau ini. Mpu Prapanca dalam Kitab Negara Kertagama bertarikh 1364 M&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menuliskannya dalam aksara Jawi: &lt;i style=""&gt;butun&lt;/i&gt;. Tomme Pires ketika melakukan ekspedisi pelayaran ke perairan nusantara dalam kurun waktu 1512-1515 M, dalam bukunya &lt;i style=""&gt;Summa Oriental&lt;/i&gt; menuliskannya dalam aksara latin: &lt;i style=""&gt;Buton&lt;/i&gt;. Para pelaut, pedagang dari Bugis dan Makassar melafalkannya: &lt;i style=""&gt;butung&lt;/i&gt;; sama halnya pelafalan dan penulisan kampung Butung; Pasar Butung di Makassar-SulSel. Para pelaut, pedagang dari semenanjung Melayu melafakannya: &lt;i style=""&gt;butun.&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Fahmi Basya dalam buku &lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;One Million Phenomena: Good News of Modern Man&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menyebutnya dengan &lt;i style=""&gt;Buthuun&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;Bangsa Portugis, Belanda dalam catatan sejarah dan peta buatannya menuliskannya dalam huruf latin: &lt;i style=""&gt;boeton&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: justify;"&gt; Bagaiman dengan masyarakat pulau ini sendiri? Abdul Mulku Zahari dalam buku &lt;i style=""&gt;Sejarah dan Adat fiy Darul Butuni&lt;/i&gt; menuliskannya: &lt;i style=""&gt;butuni&lt;/i&gt;. Dalam aksara Arab,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Maulana Abdurrahman Haddad seorang ulama Gresik menuliskan dalam &lt;i style=""&gt;Buku Tembaga&lt;/i&gt;: &lt;i style=""&gt;Assajaru Huliqa Daarul Bathniy&lt;/i&gt;. Masyarakat setempat penghuni pulau Buton meyakini bahwa penamaan pulau Buton berasal dari bahasa Arab, yaitu &lt;i style=""&gt;butuuni, bathin, bathniy&lt;/i&gt;. Mereka meyakini bahwa nama negeri kediaman mereka: &lt;i style=""&gt;butuni, bathin&lt;/i&gt;, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ada relevansinya dengan ayat suci di dalam Al Quran. Mereka menyakini bahwa yang memberikan nama pulau ini adalah para ulama yang mula-mula mendiami pulau tersebut. Ketika itu para ulama penghuni awal pulau &lt;i style=""&gt;Butuni, Bathni,&lt;/i&gt; belum melakukan aktivitas syiar islam secara proaktif. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: justify;"&gt;Sama halnya proses penyiaran Islam di nusantara, para ulama yang sebagian juga aktivitasnya adalah sebagai pedagang--mereka tidak langsung menyiarkan Islam di tempat yang mereka kunjungi. Islam yang digenggami oleh para pedagang-muslim tersebut lebih diamalkan untuk diri sendiri. Kalaupun ada masyarakat setempat yang terpikat &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mempelajari ajaran Islam dikarenakan pada mulanya mereka kagum dengan perilaku para pedagang-muslim tersebut yang santun, ramah, sederhana, jujur, dan amanah dalam aktivitas dagang dan kesehariannya. Setelah masyarakat setempat mempelajari dan mendalami ajaran Islam dan melihat kandungan ajarannya yang luhur, mereka akhirnya semakin teguh memegang agama Islam.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: justify;"&gt; Pada saat bangsa Portugis dan Belanda mulai memasuki wilayah barat nusantara (Johor, Pasai dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aceh) dengan membawa misi dagang sambil “menggandeng” misionaris nasrani maka para pedagang muslim-Arab yang juga adalah para ulama tersebut melihat dan merasakan adanya sebuah &lt;i style=""&gt;challenge&lt;/i&gt;. Apatah lagi bahwa “agama baru” tersebut dalam praktek misionarisasinya menempuh cara yang yang dalam pandangan Islam menyimpang. Akhirnya para pedagang yang juga adalah ulama tersebut memutuskan wajibnya syiar Islam di nusantara. Ketika itu mulailah syiar Islam dilakukan secara proaktif mulai dari ujung barat nusantara sampai ke wilayah timur nusantara.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: justify;"&gt; Sayid Abdul Wahid –ulama yang tercatat sebagai penyiar Islam pertama di Buton sekitar tahun 1511 M-- yang memulai syiar Islam secara proaktif, dalam kesehariannya gemar melafalkan pulau ini sebagai pulau &lt;i style=""&gt;butuni, bathni&lt;/i&gt;. Ketika itu, Raja Buton ke-5 Raja Mulae (raja yang pertama memeluk Islam) menanyakan mengapa melafakannya &lt;i style=""&gt;butuni, bathin?&lt;/i&gt; Beliau menjelaskan bahwa diberikannya nama &lt;i style=""&gt;butuni, bathni&lt;/i&gt;, karena beliau mentamsilkan pulau ini ibarat manusia yang jasad dan bathinnya secara kontinyu diisi dengan pemahaman akan syariat-haqiqat-ma’rifat Islam. Demikian juga manusia dari pulau ini. Beliau juga menazarkan kelak dari bumi &lt;i style=""&gt;butuni, bathni&lt;/i&gt; akan lahir manusia-manusia yang memiliki pengetahuan agama Islam yang mendalam, yang akan melakukan syiar Islam pada masyarakat dan negeri-negeri di sekitarnya. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: justify;"&gt; &lt;i style=""&gt;Nazar&lt;/i&gt; dari para ulama tersebut, rupanya terwujudkan. Kelak dari bumi &lt;i style=""&gt;Butuni, Bathni,&lt;/i&gt; lahir para ulama yang memiliki pengetahuan Agama Islam yang &lt;i style=""&gt;kaffah&lt;/i&gt; (utuh). Seperti La Elangi (Sultan Buton ke-4); Haji Abdul Ganiyu (&lt;i style=""&gt;Kenepulu La Bula&lt;/i&gt;); La Manggapura (&lt;i style=""&gt;Sangia Wambulu&lt;/i&gt;); Haji Pada; Muhammad Idrus (Sultan ke-29 &lt;i style=""&gt;Oputa Mancuana Mokobadiana&lt;/i&gt;), selain menjabat sebagai umara juga dikenal sebagai ulama sufi, pujangga-sastrawan, yang karya-karya sufi dan sastranya bisa dibaca sampai saat ini. Muhammad Idrus pula yang secara tegas memberlakukan penegakan hukum Islam, &lt;i style=""&gt;qanun&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;qisas&lt;/i&gt; dalam hukum pidana pemerintahannya. Begitu banyaknya karya tulis dari Muhammad Idrus sehingga budayawan Prof. Rosjidi mensejajarkan Muhammad Idrus dengan Hamzah Fansuri (Aceh) dan Abdul Samad (Banten-Sunda). Demikian halnya La Teke,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;cucu dari La Ngkariry (Sultan Buton ke-19) –di Konawe dikenal sebagai guru Laode Teke-- mendalami dan digembleng agama Islam di lingkungan keraton Kesultanan Buton juga dikenal sebagai ulama yang ditugaskan menyebarkan dan mengajarkan agama Islam ke kerajaan Konawe pada tahun 1785 M. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: justify;"&gt;Setiap kali membaca sejarah dan karya-karya para leluhur dari Butuni, Bathin, Buton, saya selalu kagum, ada rasa bangga pada mereka. Karena riwayat dan karya mereka yang kembali digali oleh generasi sekarang bisa ditelusuri asal muasalnya dengan jelas. Bukan sekadar riwayat, cerita-cerita lisan yang tidak jelas yang bisa menyebabkan penulisan yang bias, kabur, tidak ada hubungan klausal sebab akibat seperti seharusnya metode penulisan sejarah. Manuskrip, naskah purbakala zaman kesultanan Buton tersimpan rapih baik yang ada di situs museum Kesultanan Buton, yang dikoleksi oleh pewaris manuskrip tersebut, maupun di museum Universitas Leiden (Belanda). Manuskrip dan benda-benda peninggalan zaman purbakala tersebut bisa disaksikan dan dibaca sampai sekarang ini.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: justify;"&gt; Seperti umumnya kebiasaan intelektual ulama sufi zaman dulu dan sekarang ini, para ulama dan umara kesultanan Butuni gemar membuat syair &lt;i style=""&gt;kabhanti&lt;/i&gt; (prosa-puisi). Salah satu &lt;i style=""&gt;kabhanti&lt;/i&gt; yang mendeskripsikan tentang kejadian negeri Buton misalnya dalam &lt;i style=""&gt;kabhanti&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;Kanturuna Mohelana&lt;/i&gt; (Pelita Sang Pelayar) saya kutipkan penggalannya berikut ini:&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Tuamosi yaku kupatindamo&lt;br /&gt;Ikompona incema euyincana&lt;br /&gt;Kaapaaka upeelu butuni&lt;br /&gt;Kumaanaia butuni o kompo&lt;br /&gt;Motodhikana inuncana qura’aini&lt;br /&gt;Itumo dhuka nabita akooni&lt;br /&gt;Apayincana sababuna tana siy&lt;br /&gt;Tuamo siy auwalina Wolio&lt;br /&gt;Inda kumondoa kupetula-tulakea&lt;br /&gt;Sokudhingki auwalina tua siy&lt;br /&gt;Taokana akosaro butuni&lt;br /&gt;Amboresimo pangkati kalangana&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                      &lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Artinya:&lt;br /&gt;Demikian inilah kubertanya&lt;br /&gt;Di perut siapakah engkau tampak&lt;br /&gt;Karena engkau suka butuni&lt;br /&gt;Kuartikan butuni adalah mengandung&lt;br /&gt;Yang terdapat pula dalam Al Quran&lt;br /&gt;Disitulah Nabi Saw&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bersabda&lt;br /&gt;Menjadi asal sebab tanah Wolio&lt;br /&gt;Demikian inilah awalnya Wolio&lt;br /&gt;Tidak selesai kuceritakan semua&lt;br /&gt;Sebabnya bernama butuni&lt;br /&gt;Karena menempati derajat yang tinggi.&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: justify;"&gt; Membaca syair kabhanti Kanturuna Mohelana jika menggunakan mantiq-akal maka sungguh tidak masuk diakal bahwa Rasulullah Saw sampai menyebutkan tentang pulau &lt;i style=""&gt;butuuni&lt;/i&gt;. Begitu istimewanya pulau ini?? Saya lebih cenderung menafsirkan &lt;i style=""&gt;kabhanti&lt;/i&gt; diatas seperti pemahaman yang diberikan oleh Sayid Abdul Wahid. Beliau menamakan &lt;i style=""&gt;butuuni&lt;/i&gt; karena selain memang telah dikenal oleh para pedagang dari benua lain, beliau juga menazarkan bahwa dari pulau &lt;i style=""&gt;Butuni, Bathin&lt;/i&gt; akan lahir para ulama yang pemahaman Islamnya &lt;i style=""&gt;kaffah&lt;/i&gt; (utuh) dan melanjutkan syiar Islam yang telah dirintisnya. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt; text-align: justify;"&gt; Menghubungkannya dengan ucapan Rasulullah Saw berarti mencari hadits yang bisa ditelusuri dan sahih sanad riwayatnya. Dalam ilmu hadist, sebuah hadist yang diklaim akan sangat ketat penelusuran sanad riwayatnya untuk kemudian menetapkannya sebagai ucapan Rasulullah Saw. Apatah lagi Rasulullah Saw sendiri bersabda: “barangsiapa yang mengatakan ini adalah dari perkataan atau perbuatanku, maka kelak di akhirat akan kumintai pertanggungjawabannya”. Saya lebih cenderung menafsirkan makna “&lt;i style=""&gt;kumaanai butuuni o kompo, motodhikana inuncana qura’ani, itumo dhuka nabita akooni apayincana sababuna tanasiy”&lt;/i&gt; sebagai &lt;i style=""&gt;kabhanti&lt;/i&gt; yang menjelaskan bahwa memang di dalam Al Quran terdapat kata &lt;i style=""&gt;butuuni&lt;/i&gt; yang berarti perut, kandungan, mengandung. Diucapkannya kata &lt;i style=""&gt;butuuni&lt;/i&gt; oleh Rasulullah Saw karena memang kata &lt;i style=""&gt;butuuni&lt;/i&gt; ada di dalam Al Quran. Sampai sekarang yang saya ketahui belum ada bukti empiris hadits sahih yang bisa menguatkan argumen bahwa Rasulullah Saw mengucapkan &lt;i style=""&gt;butuuni&lt;/i&gt; sehubungan dengan pulau ini. &lt;i style=""&gt;Wa Allahu ‘alamu bis shawab&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2296414447400032314-8508709749337620223?l=butonpages.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://butonpages.blogspot.com/feeds/8508709749337620223/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://butonpages.blogspot.com/2011/01/sejarah-yang-bagai-air-terus-mengalir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2296414447400032314/posts/default/8508709749337620223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2296414447400032314/posts/default/8508709749337620223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://butonpages.blogspot.com/2011/01/sejarah-yang-bagai-air-terus-mengalir.html' title='Sejarah yang bagai air terus mengalir'/><author><name>Sayf al Bathin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04396142878818637632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TUVzPqIRQHI/AAAAAAAAAFM/dBmsw2Kl7js/s220/Dragon-5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TTWdR_QSLsI/AAAAAAAAAEs/LkQhALigsPY/s72-c/Bab%2BIX.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2296414447400032314.post-8847869991682587448</id><published>2011-01-09T22:01:00.015+08:00</published><updated>2011-01-19T15:01:27.795+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah Buton'/><title type='text'>Sekilas Sejarah La Kilaponto-Murhum-Haluoleo</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;           Lelaki pemersatu jazirah dan kepulauan di tenggara sulawesi itu adalah Raja Buton ke-6, Sultan Buton I, bergelar Sultan Muhammad Isa Kaimud&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;din Khalifatul Khamis. Di Muna dia dikenal sebagai Lakilaponto. Konon pula d&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;i daratan Konawe dia adalah lelaki bergelar La Tolaki-Haluoleo. Setelah wafat, dia lebih dikenal denga&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;n gelarny&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;a sebagai Murhum: Sultan Murhum.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Selama hampir setengah abad, lebih kurang 4&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;6 tahun, dia berhasil mempersatukan jazirah tenggara sulawesi dan kepulauan sekitarnya dalam sebuah &lt;i style=""&gt;nation&lt;/i&gt; yang disebut Kesultanan Buton. Ke&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;daulatannya terbentang mulai dari &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Selayar di Ba&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;rat hingga Luwuk Banggai di Timur. Kedaulatan Kesultanan Buton tersebut &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;yang be&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;rcorak sistem pemerintahan berlandaskan syariat Islam pada masa itu dikenal dan diakui oleh negara kesultanan yang lain di nusa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ntara. Bahkan di jaringan kekhalifahan kesultanan dunia. Ketika itu Khilafah Islamiah di Turki-Istambul (Kesultanan Otsmaniah)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebagai pusat pemerintaha&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;n Islam mengakui kedaulatan Kesult&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;anan Buton sebagai &lt;i style=""&gt;nation&lt;/i&gt; yang berdaulat, menjalankan secara penuh syariat Islam dalam &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;sistem pemerintahannya. Oleh Khalifah Otsman&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;iah, Sultan Buton dianugerahi gelar Khalifatul Khamis—sebuah gelar yang umum digunakan oleh pa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ra sultan dalam jaringan kekhalifahan Otsmaniah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Siapakah gerangan lelaki itu? Begitu melegenda&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ny&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;a dia. Dalam sejarah Buton-Muna, dia adalah anak dari Sugimanuru, Raja Muna ke-3. Ibundanya bernama Watubapala, cucu dari Raja Buton ke-3 bergelar Batara Guru. Jadi La Kilaponto a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;d&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;alah cicit dari Batara Guru.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Syahdan, ketika masih remaja, suatu pagi dia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;duduk bersimpuh di hadapan ayahandanya. Diceritakannya tentang mimpinya semalam yang menggundahkan hatinya. Ia melihat dirinya dalam penampakan yang besar sekali. Dalam posisi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;berjongk&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ok kedua lututnya bertumpu, berlutut di Buton. Muna di bawahnya. Dan kedua ta&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ngannya menjangkau daratan Konawe dan Moronene. Mendengar penuturan puteranya itu raja&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Sugimanuru tertegun. Sejurus kemudian &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ia berkata: “Daerah-daerah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; itu adalah negeri-negeri leluhurmu…”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tatkala beranjak remaja, oleh ayahandanya, Sugima&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;nuru, dia dikirim untuk belajar adat, ilmu keksatriaan dan ketatanegaraan di Kerajaan Buton. Ketika itu kerajaan Buton adalah sebuah kerajaan yang telah memiliki sistem dan pranata k&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;etatanegaraan yang lengkap pada masanya. Kelengkapan sistem pranata ketatanegaraan terse&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;but&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; adala&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;h sebagai konsekuensi kerajaan yang berada dalam jaringan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;kerajaan nusantara di tanah Jawa: Kerajaan Majapahit. Bagaimana tingkat pera&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;daban kerajaan Buton kala itu? N&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;askah purbakala bertarikh sekitar tahun 1365 M, Kita&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;b (Kakawin) Negara Kertagama tulisan Mpu Prapanca dalam pupuh LXXVII mendeskripsikan kerajaan Buton sebagai berikut: “Buton adalah daerah keresian, dijumpai lingga, di dalamnya (ke&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;rajaan) terbentang taman, terdapat saluran air (&lt;i style=""&gt;d&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;rainase&lt;/i&gt;) dan rajanya bergelar Yang Mulia Maha Guru...”. &lt;i style=""&gt;Tua Rade&lt;/i&gt; alias Tuan Raden, Raja Buton ke-4, putra Raja Manguntu (Batar&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;a Guru, Raja Buton ke-3) ketika pulang berku&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;njung dari negeri leluhurnya di Majapahit, dihadiahkan oleh Raja Majapahit sejumlah perlengkapan adat, bendera perang, sejumla&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;h peralatan kesenian terbuat dari kuningan dan ilmu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ketatanegaraan yang diterapkan layaknya di Majapahit. Tuan Raden &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;dikenal juga dengan gelar&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;nya: &lt;i style=""&gt;Sangia Sara Jawa.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Demikianlah, La Kilaponto kecil ditempa di &lt;i style=""&gt;Belo B&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;aruga&lt;/i&gt; (semacam lembaga kaderisasi kepemimpinan) dalam lingkungan kerajaan Bu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ton. Tatkala itu Raja Buton ke-6 Rajamulae bergelar &lt;i style=""&gt;Sangia yi Gola&lt;/i&gt; (yang manis bagai gula)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, yang juga adalah pamannya, diam-diam mengawasi kemanakannya yang memiliki potensi bak&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;at tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kelak setelah beranjak dewasa La Kilaponto&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; dal&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;am ri&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;wayat hidupnya banyak menorehkan warna. Tatkala diutus ke daratan Sulawesi guna mememadamkan ekspansi kerajaan Mekongga terhadap kerajaan Konawe dia sempat menikah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; di san&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;a. Pernikahannya dengan putri kerajaan Konawe membuahkan tiga orang putri: Wa Konaw&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;e, Wa Poasia dan Wa Lepo-Lepo. Disini pula La Kilaponto yang atas jasanya memadamkan ekspansi kerajaan Mekongga m&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;aka dia d&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ikukuhkan oleh &lt;i style=""&gt;sara mokole&lt;/i&gt; Konawe sebagai raja Konawe. La Tolaki-Haluoleo, d&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;emiki&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;an gelar yang diabadikan tatkala s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;elama delapan hari delapan malam &lt;i style=""&gt;sara&lt;/i&gt; Konawe berunding, bermusyawarah membulatkan suara guna mengukuhkannya sebagai raja Konawe. Ketika La Kilaponto hendak kembali ke Muna-Buton menemui ayahandanya dan pamannya—dalam perjalanan dari Konawe melalui Tinanggea, tanpa seng&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;aja dia bertemu wanita yang sangat memikat h&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;atinya dan akhirnya dinikahinya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; pula. Belakangan, di kemudian hari wanita tersebut &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;diketahui ternyata adalah saudara tiriny&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;a (bernam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;a Wa Pogo alias Wa Karamaguna). Kejadian ini membuat murka ayahandanya, Raja Muna. Dia kemudian diusir, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;haramkan menginjakkan kakinya di bumi Muna maupun Buton.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Betapa malangnya lelaki itu. Namun disatu sisi b&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;etapa beruntungnya dia. Oleh ayahandanya Sugimanuru maupun pamannya &lt;i style=""&gt;Sangia yi Gola&lt;/i&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Raja Bu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ton, dia diperbolehkan menuju ke Selayar selama pengasingannya. Selayar adalah nege&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ri leluhurnya juga. Di Selayar bibinya yang bernama Wa Maligano (putri Raja Muna ke-2 Sugil&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;aende) adalah permaisuri dari penguasa, &lt;i style=""&gt;Opu&lt;/i&gt; Selayar bergelar La Pati Daeng Masoro. Adapun a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;diknya yang telah dinikahinya diasingkan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;di pulau Kadatua. Begitu besarnya perhatian dan kasih sayang &lt;i style=""&gt;Sangia yi Gola&lt;/i&gt; terhadap para kemanakannya, La Kilapont&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;o dan Wa Karam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;aguna. Dan mengingat p&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;engabdian La Kilapon&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;to&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; selama bel&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ajar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di Buton, &lt;i style=""&gt;Sangia yi Gola&lt;/i&gt; mengu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;tus beberapa pengawal dan dayang-dayang mendampingi dan mengurus segala kebutuhan kemanakannya, Wa Karamaguna. Di pulau ini di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;bangun sebuah istana kecil dan benteng oleh para pengikut Wa Karamaguna, dikenal s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ebagai benteng Kadatua.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TSnBW0vN0OI/AAAAAAAAAD0/xiQF96pbMgA/s1600/Benteng%2BDi%2BLipu%2BKec%2BKadatua-2.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 226px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TSnBW0vN0OI/AAAAAAAAAD0/xiQF96pbMgA/s320/Benteng%2BDi%2BLipu%2BKec%2BKadatua-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5560187812823552226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Foto: La Ode Marzuki S.Ip &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:x-small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="font-size:x-small;"&gt;&lt;i&gt;Situs benteng peninggalan Wa Pogo/Wa Karamaguna di pulau Kadatu&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;span&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:x-small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:x-small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:x-small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TSnIuYLiq7I/AAAAAAAAAEM/IT1OZcuZiqg/s1600/Makam%2BWaode%2BPogo-2.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TSnIuYLiq7I/AAAAAAAAAEM/IT1OZcuZiqg/s320/Makam%2BWaode%2BPogo-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5560195914055986098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="font-size:xx-small;"&gt;Foto: La Ode Marzuki S.Ip &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Situs makam Wa Pogo/Wa Karamaguna di pulau Kadatua&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Betapa malangnya La Kilaponto. Namun betapa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;beruntungnya juga dia. Kelak peristiwa pengusiran dan pengasingannya itu akan menemp&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;anya menjadi manusia yang lebih matang dalam mengarungi kehidupannya. Peristiwa itu akan menjadi titik balik dalam perjalanan hidupnya. Selama di Selayar dia bersahabat dengan tokoh dan ksatria di sana, seperti &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Manjawari yang adalah sepupunya sendiri (putra La Pati Daeng&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Masoro) dan Batumbu (putera Raja Wajo). Batumbu juga adalah penguasa dari daerah Poleang dan Moronene.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seperti umumnya perairan di nusantara, laut F&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;lores di Selayar sering terganggu oleh gangguan lanun laut. Lanun, perompak bajak laut tersebut dikenal sebagai bajak laut Tobelo, sebagian terdiri dari orang-orang Portugis yang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;menggangu aktivitas pelayaran pengangkutan rempah-rempah di wilayah timur nusantara baik di Sulawesi Tenggara maupun Sulawesi Selatan (baca: Sureq Ilagaligo, Dr Van Kern). Ketika itu La Kilaponto bersama sepupunya (Manjawari) dan sahabatnya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(Batumbu), memimpin perlawanan terhadap lanun laut tersebut. Kejar mengejar dan pertempuran bahkan seringkali terjadi sampai ke laut lepas dan terdampar sampai di pulau Marege (Aborigin-Australia).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;Lanun Tobelo beroperasi hampir di seluruh laut nusantara wilayah timur, termasuk di perairan Buton yang memiliki armada pengangkut rempah-rempah dan pelabuhan transit kapal-kapal pengangkut rempah-rempah ke wilayah timur maupun barat. Aktivitas lanun Tobelo membuat galau Rajamulae. Lanun Tobelo telah sangat mengganggu keamanan dan ekonomi bukan hanya kerajaan Buton tetapi juga kerajaan lain sekitarnya. Sebagai raja dari sebuah kerajaan yang besar di masanya, Rajamulae merasa bertanggung jawab terhadap keamanan dan ekonomi di selat Buton dan perairan kerajaan lain di sekitarnya. Maka Rajamulae mengambil inisiatif menghimpun dan menyatukan semua kekuatan yang ada. Dibuatnya pula sayembara: barang siapa yang berhasil menaklukkan lanun Tobelo berikut pemimpinnya yang dikenal bernama La Bolontio &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;maka akan dinikahkan dengan putri raja. Dalam &lt;i style=""&gt;Sureq I Lagaligo&lt;/i&gt; oleh orang Bugis-Makassar nama La Bolontio disebutkan sebagai La Bolong Tiong, artinya si hitam pekat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;Demikianlah sejumlah ksatria dari berbagai negeri turut serta dalam persekutuan tersebut guna menumpas lanun yang telah mengganggu perairan di kerajaan-kerajaan di seputar jazirah tenggara sulawesi itu. Tentu saja juga berarti ikut dalam sayembara tersebut. Rajamulae juga teringat akan kemanakannya, La Kilaponto yang masih dalam pengasingannya di Selayar. Maka dipanggillah kemanakannya itu. Sebelum menemui pamannya, Rajamulae, terlebih dahulu La Kilaponto menemui ayahandanya, Sugimanuru, guna memohon restu dan dimaafkan segala khilaf yang telah diperbuatnya. Oleh Sugimanuru kekhilafan putranya tersebut dimaafkan dan diizinkan menemui pamannya, menumpas lanun laut yang telah mengganggu kerajaan Buton, Muna dan kerajaan sekitarnya. “Berangkatlah ke Buton, bantulah pamanmu dan perbaikilah keturunanmu di sana…” demikian Sugimanuru berpesan pada putranya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;Bersama dengan sepupu dan sahabatnya, Manjawari dan Batumbu, maka berangkatlah La Kilaponto bersama sejumlah pasukan yang telah disiapkan oleh Raja Mulae untuk menumpas lanun Tobelo tersebut. La Bolong Tiong konon adalah lanun yang sakti, berbadan tinggi, kekar dan bermata satu (atau salah satu matanya rusak/buta). Demikianlah satu persatu, ketiga ksatria tersebut bertarung melawan La Bolontio. Dengan strategi bertarung yang sederhana, La Bolontio dapat ditaklukkan oleh La Kilaponto. La Bolontio takluk, kepala dan kemaluannya dipenggal. Seluruh lanun laut itu pun takluk oleh ketiga ksatria tersebut.&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TSnKUxz_EnI/AAAAAAAAAEU/Wq_N_nOxLKc/s1600/Tengkorak%2BLabolontio-2.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TSnKUxz_EnI/AAAAAAAAAEU/Wq_N_nOxLKc/s320/Tengkorak%2BLabolontio-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5560197673283162738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-size:x-small;"&gt;&lt;span style="font-size:xx-small;"&gt;&lt;b&gt;Foto: La Ode Marzuki, S.Ip&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-size:x-small;"&gt;&lt;i&gt;Tengkorak kepala La Bolontio &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: center;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-size:x-small;"&gt;&lt;i&gt;(perhatikan lubang tempat mata yang tampak hanya satu)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;Dalam &lt;i style=""&gt;Buku Tembaga&lt;/i&gt; (&lt;i style=""&gt;Assajaru Huliqa Darul Bathniy wa Darul Munajat&lt;/i&gt;) dituliskan atas kemenangan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pasukan gabungan dan ketiga ksatria tersebut yang dibawah naungan kerajaan Buton, &lt;i style=""&gt;Sangia yi Gola&lt;/i&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;berpantun: &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“&lt;i style=""&gt;La Baabaate pekapanda karomu, Lakapolu&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;kaapeelomo lungona&lt;/i&gt;” (wahai kupu-kupu besar, rendahkanlah dirimu, &lt;i style=""&gt;Lakapoluka&lt;/i&gt; telah meminta isinya). &lt;i style=""&gt;Lakapoluka&lt;/i&gt; adalah nama suatu tempat di Boneatiro di teluk Kapontori. Disanalah La Bolontio dikuburkan. &lt;i style=""&gt;Lungo&lt;/i&gt; adalah mayat yang disimpan dalam peti sebelum dikuburkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“&lt;i style=""&gt;Kawolena Wajo, pindana paepaeya&lt;/i&gt;” (ikan kering &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;--yang dibelah-- oleh Wajo, pindangnya ikan &lt;i style=""&gt;paepaeya&lt;/i&gt;). Maksud pantun itu adalah memberi gambaran bagaimana Batumbu mengamuk membelah-belah tubuh pasukan La Bolontio. Pindangnya ikan &lt;i style=""&gt;paepaeya&lt;/i&gt; adalah alat vital La Bolontio yang telah dipenggal dan ditaruh dalam periuk tanah untuk diperlihatkan kepada &lt;i style=""&gt;Sangia yi Gola.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;Semasa Rajamulae (bergelar Rajamulae karena yang memulai syiar Islam) pada tahun 1511 datanglah seorang ulama kharismatik dari Arab bernama Sayid Abdul Wahid. Ulama kharismatik ini berhasil mengislamkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sangia yi Gola&lt;/span&gt; dan kerabat kerajaan lainnya. Di kalangan masyarakat Buton &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sangia yi Gola&lt;/span&gt; dikenal juga dengan nama muslimnya: Umar Idgham. Dipeluknya Islam oleh Raja dan kerabat kerajaan berpengaruh besar dalam kehidupan ketatanegaraan dari sistem kerajaan Buton menjadi Kesultanan. Namun sebelum ketatanegaraan itu resmi, legal dibentuk, Sayid Abdul Wahid menyampaikan bahwa pembentukan sistem kesultanan harus dikordinasikan, dilegalisir, disyahkan atas restu Khilafah Islamiah di Istanbul-Turki yaitu pada &lt;i style=""&gt;Mufti&lt;/i&gt; Makkah dan Sultan Otsmaniah. Maka diutuslah Sayid Abdul Wahid ke Istanbul guna mendapatkan legalitas kerajaan menjadi kesultanan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt; Setelah &lt;i style=""&gt;Sangia yi Gola, &lt;/i&gt;Umar Idgham uzur dan wafat, akhirnya La Kilaponto termasuk dipertimbangkan sebagai kandidat raja menggantikan pamannya sekaligus ayah mertuanya sebagai Raja Buton ke-6. Melalui pertimbangan yang matang dan musyawarah oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Patalimbona&lt;/span&gt; (empat pemimpin sebagai dewan wakil Rakyat) Lakilaponto ditetapkan menggantikan pamannya, ayah mertuanya sebagai Raja Buton ke-6. Di Buton La Kilaponto dikenal juga dengan gelarnya &lt;i style=""&gt;Timbang-Timbangan&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt; &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Sayid Abdul Wahid melakukan perjalanan ke Turki selama kurang lebih 15 tahun. Ketika beliau kembali ke Buton, yang menjabat sebagai Raja adalah La Kilaponto. Sesuai dengan amanat &lt;i style=""&gt;Sangia yi Gola&lt;/i&gt; alias Umar Idgham maka Sayid Abdul Wahid melantik secara resmi Raja Buton ke-6 La Kilaponto sebagai Sultan Buton I dengan gelar Sultan Muhammad Isa Kaimuddin Khalifatul Khamis. Gelar Khalifatul Khamis (Khalifah ke-5) maksudnya adalah sebagai pelanjut Khalifah yang ke-4 (Khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib). Gelar Khalifatul Khamis umum dipakai oleh para sultan yang berada dalam jaringan kekhalifahan Islamiah.&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;          Versi lain mengatakan bahwa nanti pada tahun 948 H (1538 M) bertepatan hari Jumat datanglah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;utusan dari Khilafah Islamiah (Istambul-Turki) bernama Abdullah Waliullah dan utusan &lt;i style=""&gt;syarif&lt;/i&gt; Makkah (Masjidil Haram) bernama Syarif Ahmad maka La Kilaponto dilantik resmi menjadi Sultan Buton I.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;Pada masa pemerintahan Sultan Murhum dengan dibantu oleh Sayid Abdul Wahid dan Syarif Muhammad (Saidi Raba), falsafah kerajaan Buton yang telah ada pada tahun 1292 M di zaman pemerintahan &lt;i style=""&gt;Patamiana&lt;/i&gt; (&lt;i style=""&gt;Patalimbona&lt;/i&gt;) dan Raja Buton ke-1 Wa Kaa Kaa yaitu falsafah &lt;i style=""&gt;Sara Budiman&lt;/i&gt; (&lt;i style=""&gt;Bhinci-Bhinciki Kuli&lt;/i&gt;) kembali dielaborasi dan dikembangkan. Pada saat itu Kesultanan Buton juga tengah menghadapi sejumlah ekspansi dari kerajaan lain seperti kerajaan Gowa dan Ternate. Falsafah yang dielaborasi dari &lt;i style=""&gt;Sara Budiman&lt;/i&gt; dengan mengakulturasikan ajaran Islam adalah falsafah jihad &lt;i style=""&gt;Yinda-yindamo Karo Somanamo Lipu&lt;/i&gt; yang kemudian menjadi &lt;i style=""&gt;Bolimo Karo Somanamo Lipu&lt;/i&gt;. Kedua falsafah Kesultanan Buton tersebut (&lt;i style=""&gt;Syara Budiman dan Bolimo Karo Somonamo Lipu&lt;/i&gt;) selanjutnya oleh Sultan Buton ke-4 Sultan Dayanu Ikhsanuddin bersama ulama Saidi Raba pada tahun 1610 M dielaborasi kembali bersama ajaran &lt;i style=""&gt;Wahdatul Wujud&lt;/i&gt; menjadi UUD Kesultanan Buton yaitu &lt;i style=""&gt;Murtabat Tujuh&lt;/i&gt; dan penjelasannya dalam UU (&lt;i style=""&gt;Istiadatul Azali&lt;/i&gt;). Dengan berkembangnya Islam di Kesultanan Buton maka kerajaan-kerajaan lain sekitarnya turut pula diIslamkan termasuk kerajaan Muna dan kerajaan Konawe. Syiar Islam yang dilakukan oleh Kesultanan Buton setelah ulama kharismatik Sayid Abdul Wahid dan Saidi Raba dilanjutkan oleh para ulama Buton yang digembleng dalam lingkungan keraton Kesultanan Buton. Tugas ini diemban dan diamanatkan kepada para ulama di Buton-- disebut sebagai &lt;i style=""&gt;Lebe &lt;/i&gt;(pengemban syiar Islam). Di Kerajaan Konawe agama Islam disyiarkan oleh cucu dari La Ngkariri (Sultan Buton ke-19, &lt;i style=""&gt;Oputa Sangia&lt;/i&gt;) bernama La Teke (masyarakat Konawe kemudian menyebutnya sebagai guru, Laode Teke).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt; Satu hal yang menarik bahwa berkembangnya ajaran Islam dijazirah tenggara sulawesi adalah berkat syiar Islam yang dilakukan oleh Kesultanan Buton dengan mengirimkan para ulamanya sebagai kontinuitas syiar Islam yang telah dilakukan oleh para pendahulunya yaitu Sayid Abdul Wahid dan Saidi Raba. Syiar Islam di jazirah tenggara sulawesi ini adalah perjuangan antara ulama dan umara mulai dari Sayid Abdul Wahid, Rajamulae (Umar Idgham), La Kilaponto (Muhammad Isa Kaimuddin),&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saidi Raba (Syarif Muhammad), La Elangi (Dayanu Ikhsanuddin), La Ngkariri (Saqiyuddin Darul Alam).&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TSnKVCj19eI/AAAAAAAAAEc/2lcsuxKMuLY/s1600/Makam%2BSultan%2BMurhum-2.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TSnKVCj19eI/AAAAAAAAAEc/2lcsuxKMuLY/s320/Makam%2BSultan%2BMurhum-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5560197677778859490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="arial" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sultan Muhammad Isa Kaimuddin memerin&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;tah selama 26 tahun sebagai sultan dan sebelumnya selama 20 tahun memerintah sebagai raja. Pada tahun 1564 M, Sultan Muhammad Isa Kaimuddin wafat. Tatkala itu usianya mencapai 86 tahun. Beliau dimakamkan di dalam kawasan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Benteng Keraton Kesultanan Buton yang berhadapan dengan Masjid Agung Keraton Buton. Setelah wafat beliau lebih dikenal dengan gelarnya: Sultan Murhum. Pada dinding makam bagian depan yang bercat putih tertulis relief aksara &lt;i style=""&gt;buri Wolio&lt;/i&gt; (huruf Arab-Wolio): Makam Sulthan Murhum.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Sumber : &lt;a href="http://adf.ly/Fkc9"&gt;http://adf.ly/Fkc9&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2296414447400032314-8847869991682587448?l=butonpages.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://butonpages.blogspot.com/feeds/8847869991682587448/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://butonpages.blogspot.com/2011/01/sekilas-sejarah-la-kilaponto-murhum.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2296414447400032314/posts/default/8847869991682587448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2296414447400032314/posts/default/8847869991682587448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://butonpages.blogspot.com/2011/01/sekilas-sejarah-la-kilaponto-murhum.html' title='Sekilas Sejarah La Kilaponto-Murhum-Haluoleo'/><author><name>Sayf al Bathin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04396142878818637632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TUVzPqIRQHI/AAAAAAAAAFM/dBmsw2Kl7js/s220/Dragon-5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TSnBW0vN0OI/AAAAAAAAAD0/xiQF96pbMgA/s72-c/Benteng%2BDi%2BLipu%2BKec%2BKadatua-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2296414447400032314.post-6857976384457145005</id><published>2009-03-22T12:03:00.006+08:00</published><updated>2011-01-19T15:02:58.387+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah Buton'/><title type='text'>(Bagian II) Implementasi  “Bhinci-Bhinciki Kuli” dalam Kerangka Kepemimpinan</title><content type='html'>&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bhinci-Bhincki Kuli&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; (harfiahnya: ”cubitlah kulitmu”) merupakan sebuah sistem nilai yang sesungguhnya sarat dengan prinsip-prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab. Eksistensi manusia, baik ia golongan ellite maupun massa ditempatkan sesuai harkat dan martabat kemanusiaannya. Penjabaran secara esensial dapat dilihat dari dua sisi: vertikal dan horizontal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Esensi secara vertikal ”mencubit kulit (diri)” agar man&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;usia mengenal hakekat dirinya yang sejati, karena pengenalan terhadapnya merupakan jalan mendekati/mengenal Allahu Rabbul Alamin. Dalam konteks kepemimpinan, pejabat yang mengenal Tuhannya akan mengharamkan dirinya terlibat korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), karena ia yakin Tuhannya senantiasa mengawasi urusan kepemimpinan yang sedang dipikulnya (&lt;i style=""&gt;asodha&lt;/i&gt;) yang akan dipertanggungjawabkannya dalam Mahkamah Pengadilan Allah di akhirat kelak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Secara horizontal ”mencubit kulit (diri)” &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;mengandung esensi bahwa pejabat senantiasa turut merasakan apa yang dialami masyarakatnya. Masyarakatnya sakit iapun merasakan sakit, masyarakatnya senang ia ikut merasa senang. Bukan sebaliknya: pejabat bersenang-senang—sementara masyarakatnya sakit, terlebih jika sakitnya masyarakat justru disebabkan ulah pejabat yang tidak becus menjalankan kepemimpinannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/ScW6YQRRhwI/AAAAAAAAAB0/WdXxHm9LBQE/s1600-h/syara+masjid+agung.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/ScW6YQRRhwI/AAAAAAAAAB0/WdXxHm9LBQE/s320/syara+masjid+agung.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315859861027784450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pejabat yang memahami dialektika demikian akan senantiasa merefleksikan sikap (kebijakan): &lt;i style=""&gt;yinda-yindamo arataa somanamo karo&lt;/i&gt; (membelanjakan kekayaannya guna menopang kemaslahatan diri, rakyat, orang banyak); &lt;i style=""&gt;yinda-yindamo karo somanamo lipu&lt;/i&gt; (memberdayakan potensi dirinya guna memba&lt;br /&gt;ngun negeri); &lt;i style=""&gt;yinda-yindamo lipu somanamo sara&lt;/i&gt; (menjalankan urusan kepemimpinan negeri yang diamanatkan padanya dalam koridor hukum yang benar); &lt;i style=""&gt;yinda-yindamo sara somanamo agama&lt;/i&gt; (nilai-nilai agama adalah tuntunan bagi manifestasi wewenang kekuasaannya).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kaidah kepemimpinan menurut konsep &lt;i style=""&gt;bhinci-bhi&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;i style=""&gt;nciki kuli&lt;/i&gt; diatas mengarahkan system interelasi ellite-massa pada terciptanya suasana saling menyayangi (&lt;i style=""&gt;pomaa-maasiaka&lt;/i&gt;), saling menghormati (&lt;i style=""&gt;poangka-angkataka&lt;/i&gt;), saling menyantuni (&lt;i style=""&gt;popia-piara&lt;/i&gt;). Olehnya itu pada diri setiap pemimpin menurut paham Buton mesti terpatri tujuh sifat Ilahiah (&lt;i style=""&gt;hayat, ilmu, kodrat, iradat, sama’a, bashar, dan kalam&lt;/i&gt;); dan empat amanat ke-rasulan (&lt;i style=""&gt;sidiq, tabligh, amanah, fathanah&lt;/i&gt;). Karakteristik pejabat seperti ini diyakini mampu membawa organisasi atau masyarakatnya ke arah kemajuan yang beradab dan berkeadilan.&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Allah menitipkan sifat &lt;i style=""&gt;Rahman-Rahim&lt;/i&gt; kepada setiap manusia (ellite maupun massa). Barang siapa merefleksikan sifat-sifat mulia dimaksud dalam kehidupannya berarti ia telah menegakkan sifat-sifat muliaNya yang diamanatkan pada dirinya. Inilah efensi &lt;i style=""&gt;khalifatullah fill ardhi&lt;/i&gt; bagi manusia menurut faham kepemimpinan Buton.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Berdasarkan lingkup kewenangannya pejabat sebenarnya memiliki banyak peluang guna membumikan sifat-sifat mulia diatas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bukankah setiap saat mereka berhadapan dengan rakyat yang butuh pelayanan, keadilan dan kejujuran pemimpinnya? Dapatkah jabatan yang diamanatkan padanya digunakan menjadi media untuk menebarkan kasih sayang pada seluruh masyarakatnya tanpa pandang bulu. Siapkah mereka menerima saran/teguran masyarakat dan menganggapnya sebagai rahmat atas dirinya? Pendek kata maukah mereka meniru pola kepemimpinan Islam seperti diempiriskan oleh Khulafaur Rasyidun sekian abad lalu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kiranya perlu dicamkan oleh para pejabat bukan hanya di Buton tetapi juga di seluruh Indonesia bahwa Allah senantiasa menggaransi doa orang-orang yang teraniaya, orang yang mendapatkan perlakuan tidak pada tempatnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sastra klasik Buton pun memberi arahan: &lt;i style=""&gt;”....belumlah disebut kuat, walau sejuta negeri telah ditaklukkannya—disebut kuat manakala hawa nafsunya telah ditaklukkannya; belumlah disebut kebal jika hanya tidak dimakan parang—disebut kebal manakala tidak satupun perilaku KKN melibatkannya; belumlah disebut kaya jika hanya memiliki Butan—disebut kaya jika hak orang (banyak) senantiasa diserahkan pada yang empunya..&lt;/i&gt;”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada akhirnya melalui peran para ”pemikul jabatan” ("&lt;span style="font-style: italic;"&gt;asodha&lt;/span&gt;"), semoga terwujud tatanan masyarakat yang makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran di bumi Butuni&lt;/span&gt;.&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(WM-LAM-Ful)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2296414447400032314-6857976384457145005?l=butonpages.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://butonpages.blogspot.com/feeds/6857976384457145005/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://butonpages.blogspot.com/2009/03/bagian-ii-implementasi-bhinci-bhinciki.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2296414447400032314/posts/default/6857976384457145005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2296414447400032314/posts/default/6857976384457145005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://butonpages.blogspot.com/2009/03/bagian-ii-implementasi-bhinci-bhinciki.html' title='(Bagian II) Implementasi  “Bhinci-Bhinciki Kuli” dalam Kerangka Kepemimpinan'/><author><name>Sayf al Bathin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04396142878818637632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TUVzPqIRQHI/AAAAAAAAAFM/dBmsw2Kl7js/s220/Dragon-5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/ScW6YQRRhwI/AAAAAAAAAB0/WdXxHm9LBQE/s72-c/syara+masjid+agung.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2296414447400032314.post-9182568564041387444</id><published>2009-03-22T11:09:00.012+08:00</published><updated>2011-01-19T15:01:27.795+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah Buton'/><title type='text'>Implementasi “Bhinci-Bhinciki Kuli” dalam Kerangka Kepemimpinan Buton (Bagian I)</title><content type='html'>&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Setiap manusia adalah pemimpin dan setiap pemimpin kelak akan dimintai pertanggungjawab akan urusan kepemimpinannya. Berbahagialah para pejabat yang dikaruniai kapasitas untuk memimpin orang banyak sesuai lingkup tugasnya masing-masing. Sudah sepantasnyalah mereka mencamkan betul-betul filosofis jabatan. Bukankah mereka telah menyatakan sumpah di hadapan Allah, Negara dan masyarakat Buton dalam hubungannya dengan jabatan masing-masing.  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jabatan adalah sebuah entitas yang berkorelasi dengan amanah, akuntabilitas, pelayan—bukan pusaka yang dapat digunakan seenaknya. Jabatan bisa membawa pejabatnya masuk surga, sebaliknya juga dapat menjerumuskannya ke neraka yang paling dalam. Olehnya itu jabatan hendaknya tidak dimanipulasi sebagai jargon pengabdian. Justru yang dituntut adalah perilaku-empiris (&lt;i style=""&gt;political well&lt;/i&gt;) yang dibingkai moralitas dalam mewujudkan loyalitas pengabdian melalui jabatan itu sendiri. Disinilah pentingnya ditanamkan komitmen; apakah pengabdian itu diarahkan hanya untuk melanggengkan jabatan—tidak peduli mengorbankan orang banyak; atau untuk penumpukan harta-kekayaan—tidak peduli sumbernya halal atau haram, ataukah untuk kemanusiaan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dalam falsafah kepemimpinan Buton, jabatan tidak diduduki, tidak juga dipangku, tetapi dipikul (&lt;i style=""&gt;sodha; asodha-pangka&lt;/i&gt;). Konteks jabatan meliputi dimensi; amanah, akuntabilitas public, pelayan public, bahkan religius karena kelak Tuhan akan menagih pertanggungjawaban pejabat yang bersangkutan. Pejabat yang bobrok moral (korupsi, kolusi, nepotisme, KKN) dapat saja berlindung dengan memanfaatkan celah perangkat hukum yang ada (praduga tak bersalah, pembuktian terbalik, penegak hukum yang kongkalikong) tetapi satu hal yang pasti semua makhlukNya akan mati—tidak terkecuali pejabat atau mantan pejabat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Bukankah pengadilan Tuhan di akhirat kelak adalah suatu aksioma?? Pemahaman inilah yang mendasari Sultan Buton ke-8 (Mardan Ali) mengkihklaskan dirinya &lt;i style=""&gt;digogoli&lt;/i&gt; (digantung mati) oleh &lt;i style=""&gt;Dewan Syara Kesultanan Buton&lt;/i&gt; tiga abad silam meskipun saat itu beliau mempunyai cukup kekuatan untuk melawan. Beliau menyadari apalah arti kesalahannya lolo di pengadilan dunia, sementara Tuhan menantinya dengan murka di akhirat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/ScW2q2cuh6I/AAAAAAAAABs/1PhiCWC-Iug/s1600-h/mardan+ali.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 237px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/ScW2q2cuh6I/AAAAAAAAABs/1PhiCWC-Iug/s320/mardan+ali.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315855782467504034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Pejabat adalah pemimpin (sesuai lingkup kewenangannya). &lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemimpin adalah pemegang otoritas dalam system kekuasan. Dalam faham Buton, &lt;i style=""&gt;ellite&lt;/i&gt; (pemimpin) dan &lt;i style=""&gt;massa &lt;/i&gt;(yang dipimpin) ibarat dua mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Ellite memandang massa sebagai bagian dirinya, begitu pula massa memandang ellite-nya sebagai tempat menggantungkan harapan, pengayoman, kesejahteraan, keadilan, keamanan dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ellite senantiasa mempertalikan yang banyak (massa) kepada yang satu (dirinya) dan mempertalikan yang satu (dirinya) kepada yang banyak (massa). Keduanya manunggal-paripurna. Sebagaimana ungkapan dalam bahasa Buton &lt;i style=""&gt;poromu yinda saangu—pogaa yinda koolota &lt;/i&gt;(bersatu tiada berpadu—bercerai tiada antara).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mereka hanya dibedakan hirarki peran, wewenang, dan tanggung jawab, tetapi secara bersama-sama wajib mewujudkan &lt;i style=""&gt;social-order&lt;/i&gt;. Oleh karena itu taat pada pemimpin adalah wajib selama ia dalam koridor keberanaran, dan sebaliknya pula wajib dilawan (baca: beri peringatan) manakala ia berlaku zholim, aniaya, korup, dan segala hal yang menyimpang dari kebenaran dan kebaikan. (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;bersambung ..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;ke Implementasi II&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(WM-MAM-Ful)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2296414447400032314-9182568564041387444?l=butonpages.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://butonpages.blogspot.com/feeds/9182568564041387444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://butonpages.blogspot.com/2009/03/implementasi-bhinci-bhinciki-kuli-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2296414447400032314/posts/default/9182568564041387444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2296414447400032314/posts/default/9182568564041387444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://butonpages.blogspot.com/2009/03/implementasi-bhinci-bhinciki-kuli-dalam.html' title='Implementasi “Bhinci-Bhinciki Kuli” dalam Kerangka Kepemimpinan Buton (Bagian I)'/><author><name>Sayf al Bathin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04396142878818637632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TUVzPqIRQHI/AAAAAAAAAFM/dBmsw2Kl7js/s220/Dragon-5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/ScW2q2cuh6I/AAAAAAAAABs/1PhiCWC-Iug/s72-c/mardan+ali.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2296414447400032314.post-3922870171890511891</id><published>2009-02-12T14:20:00.002+08:00</published><updated>2011-01-19T15:01:27.796+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah Buton'/><title type='text'>Bhinci-Bhinciki Kuli</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Bhinci-Bhinciki Kuli&lt;/i&gt; (Falsafah Hidup Kesultanan Buton)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dalam literatur sosiologi (Stewart, 1978) dikemukakan bahwa ada dua atribut sikap kemasyarakatan yang amat mempengaruhi pertumbuhan masyarakat yaitu historis atau kebanggaan sejarah dan vitalitas yaitu kemampuan untuk tetap bertahan hidup. Masyarakat yang menyikapi kedua atribut tersebut secara positif akan mencapai kemajuan lebih dari pada masyarakat lain yang kurang/tidak memiliki respon terhadap hal tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Pertanyaannya adalah apakah masyarakat Buton pada masa lampau memiliki kedua atribut sikap kemasyarakatan tersebut? Secara akademik pertanyaan diatas tidak dapat dijawab dengan sebuah pernyataan hitam putih. Diperlukan penelusuran dan pengkajian data kesejarahan masyarakat Buton selama kurang lebih 6 abad masa pemerintahan dan kesultanan Butuni.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Dari catatan sejarah yang telah diketahui, ada satu nilai budaya Wolio-Buton yang patut dibanggakan oleh masyarakat Buton dewasa ini oleh karena menjangkau lingkup unversal. Nilai ini diterima dan berlaku bagi seluruh umat manusia, tanpa mengenal perbedaan warna kulit, ras, asal keturunan, agama dan aliran kepercayaan maupun faham politik dimanapun di seluruh dunia. Nilai yang dimaksud adalah &lt;i style=""&gt;Bhinci-Bhinciki Kuli&lt;/i&gt;. Dikemas hanya dalam tiga kata bahasa Wolio-Buton, singkat, padat dan sarat makna. Konsepnya begitu sederhana, mudah difahami dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Direkamnya ke dalam batin dan pikiran setiap manusia untuk mencubit diri sendiri, sebelum mencubit orang lain. Yang digugah adalah kejujuran pada hati nurani kemanusiaan dalam mengekspresikan “rasa” yang dalam terminologi bahasa Wolio disebut &lt;i style=""&gt;“namisi”&lt;/i&gt; Konsep rasa inilah yang menjadi akar persamaan manusia yang menjadi satu dengan sesamanya. Kejujuran dalam hati nurani adalah kunci penentu dalam menggerakkan akal budi manusia. Seseorang yang tidak jujur pada hati nuraninya, hampir dapat dipastikan orang bersangkutan berpotensi dan cenderung untuk tidak jujur pada orang lain. Kejujuran hati nurani untuk mengakui kesamaan &lt;b style=""&gt;rasa kemanusiaan&lt;/b&gt; akan berpengaruh besasr terhadap jiwa dan akal budi yang mendorong perlaku sesorang. Sebagai unsur terkecil dari sebuah masyarakat, maka perilaku anggotanya dapat mempengaruhi lingkungannya. Dalam hubungan ini maka azas &lt;i style=""&gt;Bhinci-Bhinciki Kuli&lt;/i&gt; berperan sebagai etika sosial dan alat kontrol bagi masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Bhinci-Bhinciki Kuli&lt;/i&gt; sebagai pandangan hidup dan etika sosial masyarkat Buton selama lebih 6 abad sejarahnya, telah dihayati dan mewarnai perilaku masyarakat, malah pada tingkat yang lebih dalam telah membentuk apa disebut oleh To Thi Anh (1984) sebagai “ketaksadaran Kolektif” yang mendasari hidup masyarkat Buton. Di dalam masyarkat, &lt;i style=""&gt;Bhinci-Bhinciki Kuli &lt;/i&gt;telah menjadi “batu timbangan” untuk menimbang dan menilai perilaku seorang termasuk perilaku penguasa. Azas ini, tidak hanya menyangkut kesamaan rasa antara sesama anggota masyarakat, melainkan juga berkenaan dengan kesamaan rasa antara penguasa pemerintah negeri. Pada saat masyarakat menyaksikan perilaku penguasa, pejabat, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;atau siapapun yang bertindak melampaui batas kewajaran sehingga merugikan orang lain, terdengar kecaman masyarakat:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;“…yinda abhinciki kulina..”.&lt;/i&gt; Maksudnya: …tidak mencubit dirinya sendiri. Ini merupakan ungkapan kebencian, prihatin dan protes masyarkat terhadap perilaku yang tidak wajar tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Tiga aliran kebudayaan Timur yakni Konfusianisme, Taoisme dan Budhisme telah mempengaruhi seluruh &lt;st1:place st="on"&gt;Asia&lt;/st1:place&gt; lebih dari 2000 tahun. Konfusianisme sangat besar pengaruhnya dalam keterikatan sosial untuk sebagian besar Asia: Cina, &lt;st1:city st="on"&gt;Jepang&lt;/st1:City&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Korea&lt;/st1:country-region&gt; dan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Vietnam&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Hakekat ajaran Konfusianisme berpusat pada &lt;i style=""&gt;“zen”&lt;/i&gt; yang biasa diterjemahkan dengan kemanusiaan yang benar, kehendak baik, manusia yang mempunyai hati, empati, hubungan sesama manusia.&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Tse Kong, salah seorang murid Konfusius, menanyakan apakah ada peraturan yang dapat membimbing manusia selama hidupnya? “Cinta”, jawab Konfusius. Jangan berbuat kepada orang lain apa yang dia tidak suka orang lain berbuat terhadap dirinya (Lun Yu, dalam To Thi An, 1984). Seperti dijelaskan oleh Houston Smith, zen serentak mengandung rasa perikemanusiaan terhadap orang lain dan penghargaan terhadap diri sendiri, suatu yang harus ada dalam kelayakan martabat hidup manusia dimana saja berada.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Kelapangan hati seperti ini tidak mengenal batas-batas negara, karena seorang manusia &lt;i style=""&gt;“zen”&lt;/i&gt; tahu bahwa “dalam batas empat samudera semua orang bersaudara”.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Sebagai suatu etika antara manusia dalam masyarakat, kemanusian zen bukan suatu kemanusian yang abstrak atau suatu arketib planonis atau suatu yang diperintahkan oleh langit yang tidak bisa diwujudkan. Zen adalah perasaan dari realitas manusia dan keberadaannya diantara manusia-manusia (Pierre Dodinh, 1969).&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Pada dasarnya konfusianisme adalah suatu sikap humanistis yang mengesampingkan segala metafisika dan mistisme yang tidak berguna menaruh perhatian yang sangat dalam terhadap hubungan hakiki antara manusia, dan tidak dalam dunia rokh atau dalam keabadian. Ajaran paling kuat dari humanisme ini adalah “&lt;b style=""&gt;ukuran manusia adalah manusia&lt;/b&gt;” (Lin Yutang, 1943).&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Dari penjelasan tentang zen yang menjadi inti ajaran konfusianisme tersebut diatas terlihat jelas adanya kesamaan dengan etika sosial &lt;i style=""&gt;Bhinci-Bhinciki Kuli &lt;/i&gt;yang mulai berkembang di Buton pada permulaan abad 14. Keduanya mengambil &lt;b style=""&gt;“rasa kemanusiaan” sebagai ukuran dalam hubungan sesama manusia&lt;/b&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Substansi humanisme &lt;i style=""&gt;“Bhinci-Bhinciki Kuli”&lt;/i&gt; adalah persamaan manusia, sebagaimana juga hal ini diajarkan dalam humanisme Islam bahwa “pada manusia dasarnya adalah sama di hadapan Allah Swt, yang membedakan adalah nilai taqwanya. Implikasi dari pandangan hidup seperti ini melahirkan moral yang mendorong manusia untuk berbuat baik kepada sesamanya. Secara demikian manusia akan mencapai tingkat martabat yang layak untuk hidup dengan sesamanya dimanapun di dunia.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Di dalam pandangan Islam manusia diposisikan pada tempat yang mulia, sejauh ia beriman kepada Allah Swt. Dalam Surat Ali Imran ayat 110 Allah Swt berfirman: “Wahai orang-orang beriman, kamu ini sebaik-baik manusia yang dikeluarkan, dijadikan untuk manusia lain, tugasmu ada tiga, sebagai pelopor menegakkan yang baik, yang wajar dan layak, yang memberikan kebahagiaan hakiki; menghindarkan segala yang merusak, yang munkar dan semua itu kamu lakukan dengan dasar iman kepada Allah Swt. Inilah kualitas umat Islam yang harus dicapai sebagai tujuan hidupnya (Muh Natsir, 1969).&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Sangat patut diduga bahwa masuknya Islam ke Buton yang tidak menimbulkan “benturan” dalam masyarakat adalah oleh karena humanisme Islam mendapatkan tempat dalam pangkuan etika sosial &lt;i style=""&gt;Bhinci-Bhinciki Kuli&lt;/i&gt; yang dianut masyarakat Buton. Justru etika sosial &lt;i style=""&gt;Bhinci-Bhinciki Kuli&lt;/i&gt; dengan humanisme Islam yang berlandaskan tauhidullah mendorong terjadinya “aklturasi budaya” dan menjadikan bhinci-bhinciki kulit sarat dengan muatan makna serta nuansa simbol-simbol baru yang mampu merekatkan masyarakat buton yang majemuk menjadi masyarakat kohesif dalam perjalanan sejarah yang panjang beberapa ratus tahun yang lampau.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Dewasa ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;etika Bhinci-Bhinciki Kuli sudah kurang difahami oleh generasi muda Buton, sementara di kalangan generasi tua sudah jarang pula memberikan keteladanan yang memadai. Oleh karena itu dipandang perlu untuk disosialisasikan kembali dengan berbagai jalan antara lain lewat artikel ini dengan harapan semoga kita generasi muda Buton bisa memulai mengimplementasikan pertama bagi diri kita sendiri, keluarga seterusnya dalam kehidupan bermasyarakat. &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;(MWM-LMO-ful-walio&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2296414447400032314-3922870171890511891?l=butonpages.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://butonpages.blogspot.com/feeds/3922870171890511891/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://butonpages.blogspot.com/2009/02/bhinci-bhinciki-kuli.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2296414447400032314/posts/default/3922870171890511891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2296414447400032314/posts/default/3922870171890511891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://butonpages.blogspot.com/2009/02/bhinci-bhinciki-kuli.html' title='Bhinci-Bhinciki Kuli'/><author><name>Sayf al Bathin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04396142878818637632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TUVzPqIRQHI/AAAAAAAAAFM/dBmsw2Kl7js/s220/Dragon-5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2296414447400032314.post-4502524279012795998</id><published>2009-02-09T14:01:00.001+08:00</published><updated>2011-01-21T22:11:20.147+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah Buton'/><title type='text'>Dari Manakah Asal Penamaan Negeri Buton ?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dimanakah letak Buton? Dari manakah asal penamaan Buton? Siapakah kali pertama yang menamai jajaran pulau di jazirah Celebes (&lt;st1:place st="on"&gt;Sulawesi&lt;/st1:place&gt;) tersebut dengan nama Buton? Mengapa dinamakan Buton?&lt;/span&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Buton adalah nama sebuah pulau di jazirah tenggara kepulauan Sulawesi (&lt;st1:place st="on"&gt;Celebes&lt;/st1:place&gt;). Di pulau inilah dahulu terletak pusat pemerintahan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kesultanan Buton. Tidak diketahui secara pasti sejak kapan pulau itu bernama demikian.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/SY_I6h7WTQI/AAAAAAAAAAM/dnzNUc7q-aE/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 173px; height: 126px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/SY_I6h7WTQI/AAAAAAAAAAM/dnzNUc7q-aE/s200/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300676194303626498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/SY_JivKjfVI/AAAAAAAAAAc/Va2yBgBjYSw/s1600-h/boeton1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 167px; height: 128px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/SY_JivKjfVI/AAAAAAAAAAc/Va2yBgBjYSw/s200/boeton1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300676885051833682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ket Gbr: Benteng Keraton Buton &amp;amp; Masjid Agung Keraton Buton. Lokasi di Benteng Keraton Buton.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dalam catatan sejarah yang bisa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;dirunut bahwa pada abad ke-14 Buton telah dikenal oleh dunia luar. Dari sejumlah sumber &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;dijumpai beberapa versi yang mengisahkan keberadaan negeri ini. Salah satu sumber kepustakaan sejarah nusantara yang pernah memberitakan keberadaan Buton adalah Kitab Kakawin (Negara Kertagama) yang ditulis Mpu Prapanca (sastrawan Majapahit).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pada Pupuh XIV di kitab tersebut dituliskan adalah Mahapatih Gajah Mada dalam sumpahnya –yang terkenal sebagai &lt;i&gt;Sumpah Palapa--&lt;/i&gt; melafa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;lkan pulau ini sebagai berikut : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;“…&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;.&lt;i style=""&gt;muwah tanah I Bantayan. Pramuka Bantayan len Luwu, tentang udamakatrayadhi nikanang sanusaspupul. Ik&lt;span style=""&gt;ang sakanuasa Makasar, &lt;b style=""&gt;Butun&lt;/b&gt;, Banggawi, Kunir, Craliyao Mwangi, Selaya, Sumba, Sotomuar….”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Artinya:&lt;br /&gt;(….Seluruh &lt;st1:place st="on"&gt;Sulawesi&lt;/st1:place&gt; menjadi daerah VII Kerajaan Majapahit, meliputi; Bantaeng, Luwuk, Talaut, Makasar, &lt;b style=""&gt;Butun&lt;/b&gt;, Banggai, Kunir, Selayar, Solor…). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dari informasi Mpu Prapanca tersebut sekilas dapatlah disimpulkan bahwa Buton, sejak zaman Majapahit telah dikenal oleh dunia luar, kerajaan-kerajaan di nusantara. Dari informasi Mpu Prapanca tersebut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;diketahui bahwa sesungguhnya nama Buton telah ada sebelum Mpu Prapanca menuliskan Kitab Kakawin Negarakertagama—atau sebelum Mahapatih Gajah Mada mengumandangkan Sumpah Palapa-nya pada tahun 1364 (Miladiah). Jadi sejak kapan nama Buton, pulau Buton, manusia Buton,Kerajaan Buton telah ada…? Siapakah kali pertama yang memberikan nama Buton..?? Mengapa dinamakan Buton…??&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dalam hubungannya dengan pemberitaan tersebut diatas, Prof Mattulada (1996) menyatakan bahwa perkataan Boetoen (Buton) yang tertulis dalam Kitab Negarakertagama sesungguhnya merujuk pada sebuah negeri berdaulat sebagaimana halnya Bantaeng, Makassar, Banggai, Solor, dan sebagainya, dan niscaya pula bahwa letak negeri Buton sebagaimana dimaksud Prapanca berada di sebelah selatan menenggara kontinen Pulau Sulawesi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Bagaimana asal muasal nama Buton, terhadap hal ini ditemukan sejumlah versi. Versi yang lain menyatakan bahwa, nama Buton berasal dari nama sejenis pohon, yaitu pohon “butun” (latin: &lt;i style=""&gt;Barringtonia asiatica&lt;/i&gt;) . Pohon butun ini banyak tumbuh di daerah pesisir selatan Pulau Buton, yaitu suatu tempat yang sejak dulu banyak disinggahi kapal-kapal layar yang melintasi perairan Nusantara. Dalam masyarakat Buton ada suatu tradisi membuat upacara yang dikenal sebagai &lt;i style=""&gt;kaepeta. &lt;/i&gt;Dalam upacara &lt;i style=""&gt;kaepeta &lt;/i&gt;masyarakat setempat menggunakan daun pohon butun sebagai ganti piring untuk makan. Bahkan daun pohon butun digunakan pula sebagai bahan dasar membuat ketupat –masyarakat setempat menyebut &lt;i style=""&gt;ketupat butun&lt;/i&gt; karena ketupatnya dari daun butun dan besarnya sebesar buah pohon butun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Secara sosio-antropologis, sumber diatas menunjukkan keterkaitan masyarakat Buton dengan pohon butun. Dalam bahasa Melayu memang ada kosa kata butun. Atas dasar itu, diduga keras bahwa yang memberi nama demikian adalah orang yang menggunakan bahasa Melayu. Hal ini sejalan dengan sumber-sumber historiografi local buton yang menyatakan bahwa kerajaan buton didirikan oleh kelompok &lt;i style=""&gt;Mia Patamiana&lt;/i&gt; (Empat Pemimpin) yaitu imigran yang berasal dari Kawasan Semenanjung Malaka. Jadi –menurut versi ini—nama Buton diduga keras diberikan oleh imigran &lt;i style=""&gt;Mia Patamiana&lt;/i&gt; dari Melayu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Versi lain---dan ini yang diyakini masyarakat Buton sendiri—bahwa nama Buton berasal dari bahasa Arab yakni dari kosa kata &lt;i style=""&gt;butuni &lt;/i&gt;yang arti harfiahnya: &lt;i style=""&gt;perut&lt;/i&gt;. Penamaan butuni diyakini oleh masyarakat setempat diberikan oleh ulama-ulama yang pertama mendiami kepulauan tersebut. Hal ini terungkap&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam salah satu syair&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Kabhanti&lt;/i&gt; (sastra klasik buton) yang berjudul &lt;i style=""&gt;Kanturuna Mohelana&lt;/i&gt; (Pelita Sang Pelaut) sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                          &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Tuamosi yaku kupatindamo&lt;br /&gt;Ikompona incema euyincana&lt;br /&gt;Kaapaaka upeelu butuni&lt;br /&gt;Kumaanaia butuni o kompo&lt;br /&gt;Motodhikana inuncana qura’aini&lt;br /&gt;Itumo dhuka nabita akooni&lt;br /&gt;Apayincana sababuna tana siy&lt;br /&gt;Tuamo siy auwalina Wolio&lt;br /&gt;Inda kumondoa kupetula-tulakea&lt;br /&gt;Sokudhingki auwalina tua siy&lt;br /&gt;Taokana akosaro butuni&lt;br /&gt;Amboresimo pangkati kalangana&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Artinya:&lt;br /&gt;Demikian inilah kubertanya&lt;br /&gt;Di perut siapakah engkau tampak&lt;br /&gt;Karena engkau suka butuni&lt;br /&gt;Kuartikan butuni adalah mengandung&lt;br /&gt;Yang terdapat pula dalam Al Quran&lt;br /&gt;Disitulah Nabi Saw&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bersabda&lt;br /&gt;Menjadi asal sebab tanah Wolio&lt;br /&gt;Demikian inilah awalnya Wolio&lt;br /&gt;Tidak selesai kuceritakan semua&lt;br /&gt;Sebabnya bernama butuni&lt;br /&gt;Karena menempati derajat yang tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Menurut syair kabhanti diatas nama Buton berasal dari kosa kata bahasa Arab, terdapat di dalam Al Quran yakni butuni. Dinamai demikian karena negeri Buton diyakini mengandung banyak isi sebaimana halnya perut atau butun yang berisi makanan. Menurut masyarakat setempat, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“isi”&lt;/span&gt; dimaksud adalah berupa hikmah, ilmu dan kekayaaan alam yang terpendam di dalamnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Jika sumber yang terakhir dihubungkan dengan riwayat kedatangan kelompok &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mia Patamiana&lt;/span&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(tahun 1400-an) yang diduga memberi nama daerah ini (Buton), maka besar kemungkinan kelompok imigran tersebut telah menganut Agama Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Berdasarkan jejak sejarah yang bisa ditelusuri ajaran Islam masuk di Buton pada sekitar tahun 1542 M (948 H). Tokoh yang dikenal sebagai penyiar agama Islam pertama di Buton adalah Syekh Abdul Wahid seorang ulama berkebangsaan Arab. Beliau mengislamkan negeri Buton dan memberikan gelar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sultan&lt;/span&gt; pada raja dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kesultanan&lt;/span&gt; pada negeri Buton –tentu saja setelah mendapatkan ijin dari Sultan Roem di Turki (pusat Kesultanan Islam di Dunia pada waktu itu).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Jadi kembali ke pertanyaan awal tulisan ini….siapakah yang kali pertama memberikan nama Buton, butuni pada pulau di jazirah tenggara &lt;st1:place st="on"&gt;Celebes&lt;/st1:place&gt; itu ??. Apakah salah satu dari yang berikut: ….&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mia Patamiana&lt;/span&gt; yang dari Melayu (tahun 1400-an), Syekh Abdul Wahid sang penyiar agama Islam (tahun 1542 M), Mahapatih Gajah Mada-Mpu Prapanca (tahun 1364 M), ataukah ada yang lain sang pemberi nama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;butun&lt;/span&gt; ---jauh sebelum tercatat di dalam Kitab Negara Kertagama …..?? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kembali ke tulisan Mpu Prapanca dalam Kitab Negarakertagama, dalam Pupuh LXXVII dia menulis: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;“…..Buton adalah daerah ke-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;resi&lt;/span&gt;-an, di dalamnya terbentang taman, dijumpai lingga, ditemukan saluran air (irigasi/drainase ?) dan rajanya bergelar &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yang Mulia Maha Guru&lt;/span&gt;…” (Dikutip dari Slamet Muljana, 1979).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dalam tradisi masyarakat Hindu (agama Kerajaan Majapahit) istilah &lt;i style=""&gt;resi&lt;/i&gt; adalah gelar untuk strata ahli spiritual/agama (komunitas &lt;i style=""&gt;brahmana&lt;/i&gt;). Dari pemberitaan Mpu Prapanca bahwa Buton adalah &lt;b style=""&gt;daerah ke-resi-an &lt;/b&gt;bisa disimpulkan bahwa ketika Mpu Prapanca menulis Kitabnya dia memberikan penegasan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahwa di buton sesungguhnya telah didiami sekelompok--mungkin komunitas &lt;i style=""&gt;resi&lt;/i&gt; (ahli olah spiritual). Maka muncul pertanyaan &lt;b style=""&gt;“mengganggu”&lt;/b&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;apakah tidak mungkin penamaan buton jauh sebelum rentang masa dari semua pendapat/versi yang diungkapkan diawal tulisan ini?? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kupasan tentang pertanyaan “mengganggu” diatas akan dilanjutkan pada artikel berikutnya. (&lt;i style=""&gt;Ful-&lt;b style=""&gt;Walio&lt;/b&gt;)&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2296414447400032314-4502524279012795998?l=butonpages.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://butonpages.blogspot.com/feeds/4502524279012795998/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://butonpages.blogspot.com/2009/02/dari-manakah-asal-penamaan-negeri-buton.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2296414447400032314/posts/default/4502524279012795998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2296414447400032314/posts/default/4502524279012795998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://butonpages.blogspot.com/2009/02/dari-manakah-asal-penamaan-negeri-buton.html' title='Dari Manakah Asal Penamaan Negeri Buton ?'/><author><name>Sayf al Bathin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04396142878818637632</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://3.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/TUVzPqIRQHI/AAAAAAAAAFM/dBmsw2Kl7js/s220/Dragon-5.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_h_tGc7rk1mo/SY_I6h7WTQI/AAAAAAAAAAM/dnzNUc7q-aE/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
